Ayo Belajar Iqro

“ba ban….ta tan….tsa tsan….ja jan…..” lantunan bacaan iqro jilid 3 mulai terdengar lagi malam itu. Suara itu bukan dari lidah anak-anak TPA.

“wa abqoo….tubduu….hasibtum……” alunan bacaan iqro jilid 4 kembali mengalun malam itu. Suara itu bukan dari mulut anak-anak madrasah.

Suara itu berasal dari sebuah rumah berukuran sedang. Beberapa orang yang cukup berumur sedang tekun mempelajari buku iqro. Mengapa saya katakan cukup berumur? Ya, karena usia mereka itu sudah di atas 35 tahun, dan saya adalah yang paling muda. Tapi bukan masalah umur yang menjadi poin utama dalam tulisan ini, melainkan semangat……semangat untuk tetap belajar.

Di masa kecil mungkin mereka tidak memiliki biaya yang cukup untuk bersekolah agama, atau tak punya waktu untuk ikut mengaji di rumah guru atau di masjid karena terlalu sibuk membantu orang tua yang hidup jauh dari kecukupan.

Kerja keras mereka untuk menaikkan taraf hidup pun berhasil. Dari segi ekonomi, di antara mereka ada yang sudah menjadi bos di bidang konveksi. Namun, pengetahuan mereka di bidang agama, terutama membaca al-quran menjadi sangat kurang sekali.

Semingggu dua kali, di antara kesibukan masing-masing, mereka menyempatkan waktu untuk belajar membaca al-quran dengam menggukana buku iqro yang mudah didapat. Selepas sholat isya, satu-persatu mereka datang untuk belajar. Tingkat kemampuan mereka bervariasi, ada yang mudah membaca tulisan di buku iqro tersebut karena sebelumnya telah dicoba di sela-sela waktu yang dimiliki. Namun ada pula yang agak sulit untuk membaca, mungkin karena kemampuan yang dimiliki dan tidak sempat untuk mengulang di lain waktu di rumah masing-masing.

Terlepas dari keterbatasan yang dimiliki, semangat mereka untuk belajar agar bisa sangat tinggi. Terkadang di antara mereka ada yang membaca dua kali giliran dengan bimbingan sang guru, selain membaca sendiri ketika giliran yang lain sedang membaca. Semangat ini lah yang kadang-kadang membuat sang guru kewalahan. Tak jarang sang guru terliat menguap. Namun karena terbawa oleh semangat anak bimbingannya, dia coba untuk tetap semangat juga.

Dalam benak saya teringat sebuah syair lagu qashidah yang dulu sering saya dengar. Syair itu berbunyi :

belajar di waktu kecil
bagai mengukir di atas batu
belajar ketika dewasa
bagai mengukir di atas air

Mungkin itu lah yang menyebabkan mereka agak sulit untuk menerima pelajaran iqro, tapi semangat mereka yang gigih insya Allah bisa mengatasi semua itu. Bukankah menuntut ilmu itu dilaksanakan sejak dalam buaian hingga ke liang lahat?

Dan sikap kita sebagai muslim terhadap al-quran adalah dua, yaitu : mengajarkannya atau mempelajarinya. Hadits Nabi mengatakan “Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhori)

Untuk sahabat yang sedang berlomba-lomba menghafal Al-quran, sudah sampai mana?

Sumber: this link

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: