Kemah Ukhuwah 2012

Rangkaian Acara: Kemah Ukhuwah, Festival Dolanan tradisional, Ustad mendongeng, Pentas Seni, Silaturahhim Walisantri, Launching Kotak Infak, Launching Buletin, Bakti Sosial Santri, Outbond TPQ, Tebar Mushaf.

This slideshow requires JavaScript.

 

 

 

, , , , , , , , ,

Leave a comment

Santunan Anak Yatim Desa Gaden

Kajian Akbar dan Pemberian Santunan (Paket Sekolah) Kepada Anak Yatim dan Kurang Mampu

di Desa Gaden (Kerjasama Antara Fokus Desa Gaden dan FKAM Kabupaten Klaten)

This slideshow requires JavaScript.

, , , ,

Leave a comment

Safari Strobery FOKUS (Edisi 3)

Asyiknya menyambut Ramadhan 1433 H bersama FOKUS Gaden

This slideshow requires JavaScript.

, , , , , ,

Leave a comment

4 Pilar Membentuk Anak Muslim

Photobucket

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

(komunitaspendidikan.com) Anak merupakan investasi masa depan orangtua, di dunia maupun di akhirat. Karenanya, orangtua perlu berikhtiar untuk mendidik anaknya dengan baik, agar bisa tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Bagaimana caranya?

Setidaknya ada empat pilar penting dalam membentuk karakter anak muslim.Pertama adalah pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam seluruh aspek kehidupan. Di rumah, nilai-nilai Islam harus termanifestasi dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Anak harus merasakan itu sebagai pengalaman batin yang akan membentuk karakter dirinya. Suasana rumah menjadi pondamen penting bagi pembentukan karakter anak selanjutnya, baik di sekolah maupun di pergaulan nantinya.

Kedua, perlunya mengembangan multi kecerdasan anak. Adalah salah kaprah membatasi kecerdasan anak hanya pada ranah kognitif saja. Sehingga anak yang tidak mendapatkan prestasi akademik yang baik, dianggap sebagai anak yang bodoh dan tidak bermasa depan. Orangtua perlu menyadari ini, sehingga tidak melulu menuntut anak mengejar prestasi akademik tinggi, sehingga justru melupakan “kecerdasan” anak yang sesungguhnya. Read the rest of this entry »

, , , , , ,

Leave a comment

30 KIAT MENDIDIK ANAK

Oleh : Ubaidillah Masyhadi

Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian serius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa karenanya.

Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya. Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai berikut:

  1. Hendaknya anak di didik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.
  2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.
  3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya mementingkan perut saja. Read the rest of this entry »

, , , , , , ,

Leave a comment

Ayo Belajar Iqro

“ba ban….ta tan….tsa tsan….ja jan…..” lantunan bacaan iqro jilid 3 mulai terdengar lagi malam itu. Suara itu bukan dari lidah anak-anak TPA.

“wa abqoo….tubduu….hasibtum……” alunan bacaan iqro jilid 4 kembali mengalun malam itu. Suara itu bukan dari mulut anak-anak madrasah.

Suara itu berasal dari sebuah rumah berukuran sedang. Beberapa orang yang cukup berumur sedang tekun mempelajari buku iqro. Mengapa saya katakan cukup berumur? Ya, karena usia mereka itu sudah di atas 35 tahun, dan saya adalah yang paling muda. Tapi bukan masalah umur yang menjadi poin utama dalam tulisan ini, melainkan semangat……semangat untuk tetap belajar.
Read the rest of this entry »

, ,

Leave a comment

(Cuma) Sekantong Gorengan

Seorang anak belasan tahun terduduk lemas di bawah pohon di pinggiran jalan. Matanya yang sayu tampak tengah mengamati antrian mobil di sepanjang jalan Wijaya, Jakarta Selatan. “Mobil-mobil mewah” pikirnya. Sejenak kuperhatikan matanya menerawang entah apa yang dipikirkannya, namun yang kutahu pasti ia sangat lelah. Itu bisa bisa dilihat dari seikat sapu lidi yang bertengger bersama tubuhnya di pohon rindang, juga seonggok sampah dalam sebuah keranjang besar. Kutahu, ia seorang penyapu jalanan yang setiap pagi tak pernah absen mengukur jalanan kota.

Tak kuasa rasanya kaki ini terus melangkah tanpa berhenti menyapanya. Matanya yang sayu namun tajam itu seperti menusuk hati ini dan memaku kuat kaki-kaki ini untuk tak terus berlalu. Bukan, bukan mobil-mobil mewah itu yang membuatnya menerawang, aku yakin, itu hanya pelampiasan satu rasa yang sampai pagi ini ditahannya. Dan kini, dari matanya, juga gerak lemah tubuhnya, aku bisa menangkap rasa yang tertahan itu. Read the rest of this entry »

, , ,

Leave a comment

Kisah Segelas Susu

Suatu hari, Khalifah Abu Bakar al-Shidiq kembali dari pasar. Di rumah, beliau melihat segelas susu murni di atas meja. Karena rasa haus akibat aktivitas yang melelahkan, beliau meminum susu tersebut tanpa curiga sedikit pun tentang asal-usul segelas susu tersebut.

Saat itu, pembantu beliau masuk rumah dan menyaksikan tuannya telah menghabiskan segelas susu yang dia letakkan di atas meja, selanjutnya ia berkata, ”Ya Tuanku, biasanya sebelum engkau memakan dan meminum sesuatu pasti menanyakan lebih dulu asal-muasal makanan dan minuman tersebut, mengapa sewaktu meminum susu tadi engkau tidak bertanya sedikit pun tapi langsung meminumnya?” Dengan rasa kaget, Abu Bakar bertanya, ”Memangnya susu ini dari mana?” Pembantunya menjawab, ”Begini, ya Tuanku, pada zaman jahiliyah dulu dan sebelum masuk Islam, saya adalah kahin (dukun) yang menebak nasib seseorang. Read the rest of this entry »

,

Leave a comment

Hidayah Melalui Anakku

Sahibul hikayat dalam kisah ini adalah warga Madinah Nabawiyah, ia menuturkan sebagai berikut, “Aku adalah seorang pemuda umur 37 tahun, telah berkeluarga dengan beberapa anak. Aku telah banyak melakukan yang diharamkan Allah. Jarang sekali shalat berjamaah, kecuali pada momen-momen tertentu saja, sekadar formalitas di mata orang lain. Hal itu disebabkan karena aku merasa sebagai orang jahat. Setan selalu mengikatku setiap saat. Anakku berumur 7 tahun, namanya Marwan, ia tuli dan bisu, tetapi ia telah banyak mereguk nilai-nilai keimanannya dari istriku.

Pada suatu malam aku dan Marwan sedang berada di rumah, aku mulai merencanakan apa yang akan aku lakukan malam ini bersama teman-teman, dan di mana lokasinya.

Saat itu selepas shalat Maghrib, dengan bahasa isyarat anakku mengatakan sesuatu, aku sangat paham kalau dia mengingatkan diriku untuk shalat, “Mengapa Bapak tidak shalat?” begitu kira-kira yang ingin dikatakannya. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke langit, lagi-lagi dengan isyarat ia mengultimatum bahwa Allah akan melihatku. Read the rest of this entry »

, , , ,

Leave a comment